Rapat tersebut dipimpin langsung Ketua Komisi II DPRD Pekanbaru Zainal Arifin dan dihadiri Wakil Ketua Komisi II Yasser Hamidy, Sekretaris Komisi M Rizki Rinaldi, serta anggota lainnya yakni dr Meiza Ningsih, Mona Sri Wahyuni, Jepta Sitohang, Davit Marihot Silaban, Rizky Bagus Oka dan Fikry Raihan Ramadhana.
Turut hadir dalam rapat Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pekanbaru Yulianis, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Riau Bambang Pratama, serta pihak Pertamina.
Pemanggilan dilakukan untuk mencari penyebab antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat di sejumlah SPBU di Pekanbaru yang sempat membuat masyarakat resah. Dalam beberapa hari terakhir, antrean kendaraan terlihat mengular hingga ke badan jalan. Bahkan, warga harus menunggu berjam-jam demi mendapatkan BBM.
Usai rapat, Zainal Arifin mengatakan pihaknya meminta penjelasan langsung dari Pertamina terkait penyebab utama kelangkaan BBM tersebut.
"Substansi kita memanggil Pertamina karena ada peristiwa kelangkaan BBM mulai tanggal 18 April lalu. Hampir semua SPBU antreannya cukup panjang, bahkan sampai berjam-jam," ujar Zainal.
Dari hasil rapat, terungkap beberapa faktor yang memicu lonjakan antrean di SPBU. Salah satunya adalah isu kenaikan harga BBM yang beredar di tengah masyarakat sehingga memicu panic buying.
"Karena ada isu kenaikan harga BBM, masyarakat berbondong-bondong mengisi kendaraan mereka sehingga terjadi antrean panjang," jelasnya.
Selain itu, terjadi pula peralihan penggunaan BBM dari Pertamax Turbo ke Pertalite yang menyebabkan konsumsi Pertalite meningkat drastis.
"Ada perpindahan penggunaan BBM dari masyarakat yang sebelumnya memakai Pertamax Turbo beralih ke Pertalite. Itu yang membuat antrean Pertalite jadi panjang," katanya.
Politisi Partai Gerindra tersebut juga menyebut faktor libur panjang menjadi penyebab meningkatnya konsumsi BBM di Pekanbaru.
"Memang ada kekurangan stok juga, ditambah saat itu libur sehingga banyak masyarakat dari luar daerah datang ke Pekanbaru dan konsumsi BBM meningkat," tambahnya.
Komisi II DPRD Pekanbaru pun meminta Pertamina segera melakukan evaluasi dan menyiapkan langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
"Kami meminta Pertamina mengkaji kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan menyiapkan solusi. Tadi mereka menyampaikan ada penambahan kuota sekitar 20 persen per hari," tegas Zainal.
Sementara itu, Sales Branch Manager Pertamina Sales Area Riau Hary Prasetyo mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi BBM di Riau, khususnya Pekanbaru.
"Ada beberapa poin, salah satunya peningkatan kekuatan distribusi yang nanti akan kami evaluasi supaya pendistribusian BBM di Pekanbaru dan Riau bisa berjalan lancar," ujar Hary.
Menurutnya, Pertamina juga akan berkolaborasi dengan pemerintah daerah terkait pengajuan tambahan kuota BBM.
"Untuk kuota, tentu kami butuh bantuan pemerintah daerah karena yang berwenang mengusulkan kuota BBM adalah pemerintah daerah," ucapnya.
Hary menegaskan, kelangkaan BBM yang terjadi dipicu oleh hoaks terkait kenaikan harga BBM subsidi menjelang 1 Mei lalu.
"Kalau penyebab (kelangkaan BBM) itu hoaks, jadi ada kenaikan harga di tanggal 30 April karena pada 1 Mei ada kenaikan harga BBM nonsubsidi, jadi muncul isu bahwa BBM subsidi juga naik. Itu membuat masyarakat panic buying," ungkapnya.
Akibat isu tersebut, masyarakat ramai-ramai mengisi BBM meski sebagian kendaraan sebenarnya masih memiliki stok bahan bakar penuh.
"Yang di rumah sebenarnya tangkinya masih penuh ikut antre juga karena khawatir harga naik. Panic buying itu terjadi mulai 30 April sampai 2 Mei," jelasnya.
Ia menambahkan, persoalan itu juga telah dibahas bersama aparat penegak hukum di Polda Riau.
"Hoaks itu muncul menjelang 1 Mei. Setelah kami diskusi dengan pihak kepolisian, memang terjadi panic buying akibat isu tersebut," tutup Hary.
Pertamina memastikan telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi lonjakan konsumsi BBM saat libur panjang dan Iduladha mendatang agar distribusi tetap berjalan lancar.***